Aku terlahir menjadi anak "bontot" di keluargaku. Kakak pertamaku seorang perempuan. Masih gadis dan Cantik. Itu yang selalu kudengar dari setiap kalimat pertama yang mereka ucapkan, entah dari seluruh anggota keluargaku, tetangga di sekitar rumahku, ataupun teman-temanku. Dan terkadang --sering-- aku merasa iri padanya. Supel, pintar, dan gelar sarjana yang ia dapatkan pun mendapat predikat cum laude. Pujian itu terus mengalir seakan tak ada habisnya.
Selain kakak perempuan, akupun dianugrahi kakak laki-laki. Ia seorang atlit bulutangkis. Wajahnya yang cukup atau bisa dibilang ganteng, membuatnya populer dihadapan para gadis remaja. Tapi --maaf-- otaknya tak serupawan wajahnya. --hhehe--
Aku sendiri seorang gadis. Tak cantik dan tak sepintar kakak perempuanku tadi. Aku selalu diejek --mungkin dalam taraf candaan-- karena kulitku agak gelap dibandingkan seluruh keluargaku."dede nggak cantik tapi manis.." --dede panggilanku di rumah-- kalimat itu yang selalu menghiburku. Ya, ayahku selalu memihak padaku. Mungkin aku tak sepintar kakak ku tapi otakku ini cukup encer dalam pelajaran IPA. Tidak seperti kedua kakak ku tadi. Mereka cakap dalam ilmu sosial. Untuk itu aku masuk salah satu universitas negeri di Indonesia di bidang pertanian.
Malam itu malam minggu. Seperti biasa pada malam itu aku memilih tidak keluar rumah. Mungkin sebagian temanku merasa ada yang aneh padaku karena aku tak seperti teman-teman sebayaku. Aku tidak pernah keluar rumah pada malam yang biasanya para remaja ataupun orang dewasa melewatkannya di luar rumah. Aku tak terbiasa atau mungkin belum terbiasa dengan hal itu.
Malam itu ramai sekali rumahku dengan suara tiga orang anak perempuan yang masih belia. Mereka seperti biasa mengeluarkan tawa renyah ala anak-anak seusia mereka. Dalam tawa itu belum terlihat masalah atau beban yang menghinggapi kepala mereka. Aku rindu saat-saat itu. Di sela-sela tawa itu, kakak perempuanku menghampiri kami. Lalu ia mengeluarkan lelucon yang tak lucu bagiku. Dengan logat sundanya ia bertanya sambil menunjuk foto kami bertiga (aku dan kedua kakakku): "Coba, urutin, mana teh yang paling cantik?". Anak-anak tadi menjawab sambil menunjuk juga foto itu mulai dari wajah kakakku perempuanku hingga wajahku: "Ini yang paling cantik, agak ganteng, sama jeleeekkk.. hahahaha". Mereka tertawa. Awalnya aku maklum karena aku sudah terbiasa. Tapi salah satu anak dengan polosnya berkata --dengan tidak meninggalkan aksen sundanya--: "itu mah tadi kata teteh ****** ketang". Yang artinya: "itu tadi yang bilang kakak ****** (menyebutkan nama)". Aku marah. Seharusnya aku tak usah semarah itu di hadapan anak-anak tadi.
Kakakku hanya tertawa. Puas sepertinya.
Kau tahu? Itu sangat TIDAK LUCU. Aku menangis. Tapi tidak kutampakkan. Ku benamkan wajahku. Aku bertanya-tanya dalam hatiku: mengapa kakakku tega menyampaikan kata-kata ejekkan itu pada anak-anak sekecil itu dan parahnya lagi untuk mengejekku?. Aku tak habis pikir. Aku marah. Sungguh aku marah. Sebenarnya apa arti CANTIK itu? Mengapa aku sesakit hati itu? Apa aku berlebihan?. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam pikiranku. Dan kau tau? Aku belum menemukan jawabannya.
Sungguh aku sudah memaafkan apa yang dilakukan kakak perempuanku padaku. Bagaimanapun aku sayang padanya. Aku bangga padanya.Beruntungnya aku karena Allah menganugrahiku kakak yang sesungguhnya sayang padaku walaupun candaannya kadang-kadang berlebihan.
Ketahuilah, aku memang merasa rendah diri dalam pergaulanku sehari-hari. Meskipun motivasi dari orangtuaku memang membuatku sedikit --hanya sedikit-- berubah.
Rabu, 16 Februari 2011
apa sih cinta?????
05.54
yuda


0 komentar:
Posting Komentar